Pernah gak sih lo beli sesuatu tanpa ekspektasi apa-apa…
Terus malah jadi langganan bertahun-tahun?
Gw pernah.
Dan lucunya, itu bukan barang mahal.
Bukan gadget.
Bukan fashion.
Bukan juga sesuatu yang lagi viral.
Tapi pie enaaak susu Bali.
Awalnya beneran iseng.
Waktu itu lagi jalan-jalan di Bali.
Agenda liburan udah selesai.
Koper udah hampir penuh.
Dan seperti kebanyakan wisatawan lainnya, gw mulai mikir:
“Oleh-oleh apa ya yang harus dibawa pulang?”
Pilihan sebenarnya banyak.
Banyak banget malah.
Dari makanan, kerajinan tangan, sampai berbagai produk khas Bali yang berjejer di toko oleh-oleh.
Tapi entah kenapa mata gw berhenti di rak pie susu.
Bukan karena lapar.
Bukan karena promosi.
Lebih karena penasaran.
Karena hampir semua orang yang pernah ke Bali kayaknya selalu membawa pulang pie susu.
Akhirnya gw ambil satu kotak.
Niatnya sederhana.
Cuma buat coba.
Kalau enak syukur.
Kalau biasa aja ya sudah.
Selesai.

Gak ada ekspektasi berlebihan.
Tapi ternyata…
Di situlah semuanya dimulai.
Begitu sampai rumah, kotaknya langsung dibuka.
Seperti biasa.
Ruang tamu yang tadinya sepi mulai ramai.
Ada yang datang duluan.
Ada yang ikut duduk.
Ada yang sekadar penasaran.
Lalu satu per satu mulai mencicipi.
Dan responsnya hampir sama.
“Eh, enak juga ya.”
Kalimat sederhana.
Tapi setelah itu jumlah pie di dalam kotak mulai berkurang dengan kecepatan yang cukup mengkhawatirkan.
Yang awalnya cuma mau coba satu.
Tiba-tiba ambil dua.
Lalu tiga.
Lalu tanpa sadar kotaknya hampir kosong.
Di situ gw mulai mikir.
Oke.
Mungkin memang ada alasan kenapa pie susu Bali tetap bertahan sebagai salah satu oleh-oleh favorit sampai sekarang.
Karena ternyata yang membuat orang kembali membeli bukan sekadar karena tradisi.
Tapi karena rasanya memang menyenangkan.
Kulit pie yang renyah.
Isian susu yang lembut.
Tingkat manis yang pas.
Semuanya terasa seimbang.
Tidak berlebihan.
Tidak bikin cepat bosan.
Dan menurut gw, justru di situlah kekuatannya.
Karena makanan yang benar-benar enak biasanya tidak perlu berteriak.
Tidak perlu tampil heboh.
Dia cukup menjadi dirinya sendiri.
Beberapa bulan setelah itu, gw kembali ke Bali.
Dan tanpa perlu berpikir panjang, pie susu kembali masuk daftar belanja.
Lucunya, kali ini bukan karena penasaran.
Tapi karena sudah ada “titipan.”
Ada keluarga yang minta dibawakan.
Ada teman yang pesan.
Ada tetangga yang ikut nitip.
Padahal sebelumnya mereka juga baru pertama kali mencobanya.
Tapi rupanya pengalaman pertama itu cukup berkesan.
Dari situ gw mulai melihat pola yang menarik.
Banyak orang awalnya membeli pie susu karena penasaran.
Tapi kemudian membeli lagi karena suka.
Lalu membeli lagi karena keluarga meminta.
Dan akhirnya membeli lagi karena sudah menjadi kebiasaan.
Mungkin itu juga yang membuat Pie Susu Asli ENAAAK Bali punya pelanggan yang terus kembali.
Karena loyalitas tidak muncul dari iklan.
Loyalitas muncul dari pengalaman.
Kalau rasa pertama mengecewakan, orang tidak akan datang lagi.
Sesederhana itu.
Tapi kalau setiap kotak yang dibuka memberikan pengalaman yang konsisten, ceritanya jadi berbeda.
Orang mulai percaya.
Orang mulai merekomendasikan.
Orang mulai menjadikan produk itu bagian dari tradisi mereka.
Dan menurut gw, itu jauh lebih berharga dibanding sekadar penjualan.
Ada satu hal yang menarik dari pie susu.
Dia punya kemampuan untuk hadir di berbagai situasi.
Bisa jadi teman minum kopi pagi.
Bisa jadi camilan sore.
Bisa jadi suguhan tamu.
Bisa juga jadi oleh-oleh yang dibawa saat berkunjung ke rumah saudara.
Jarang ada makanan yang fleksibel seperti itu.
Makanya gak heran kalau banyak orang yang akhirnya menjadikan pie susu sebagai pilihan aman.
Karena hampir semua orang menyukainya.
Dari anak-anak sampai orang tua.
Pie Susu Asli ENAAAK Bali juga membawa hal lain yang sering tidak disadari.
Kenangan.
Karena setiap kali membuka kotaknya, orang biasanya tidak hanya mengingat rasanya.
Tapi juga mengingat perjalanan yang pernah mereka lakukan.
Mengingat suasana Bali.
Mengingat momen ketika mereka membelinya.
Dan semakin lama, hubungan emosional itu semakin kuat.
Akhirnya gw paham kenapa banyak pelanggan berubah menjadi pelanggan setia.
Karena kadang keputusan membeli pertama memang terjadi secara iseng.
Tapi keputusan membeli kedua, ketiga, dan seterusnya terjadi karena pengalaman yang menyenangkan.
Dan menurut gw, itu adalah bentuk promosi terbaik yang tidak bisa dibeli.
Ketika seseorang mencicipi satu kali.
Lalu berkata:
“Nanti kalau ke Bali lagi, jangan lupa bawain yang ini ya.”
Kalimat sederhana.
Tapi sering kali itulah awal mula sebuah produk berubah dari sekadar oleh-oleh menjadi favorit keluarga.
Dan mungkin…
Itulah juga alasan kenapa banyak orang memulai dengan satu kotak pie susu Bali.
Lalu berakhir menjadi pelanggan yang selalu kembali.

