Ada satu hal yang baru gue sadari setelah beberapa kali liburan ke Bali.
Ternyata yang paling bahagia dari perjalanan itu belum tentu orang yang pergi.
Kadang justru orang yang menunggu di rumah.
Awalnya gue gak pernah mikir sampai ke situ.
Buat gue, liburan ya liburan aja.
Nikmatin pantai.
Kulineran.
Keliling tempat-tempat baru.
Foto-foto.
Lalu pulang.
Selesai.
Sampai suatu hari gue lagi jalan-jalan di Bali dan tiba-tiba mama ngirim pesan.
Pesannya pendek.
“Hati-hati ya di jalan.”
Udah.
Cuma tiga kata.
Tapi entah kenapa, gue jadi kepikiran.
Selama gue asik menikmati liburan, ternyata ada orang yang tetap mikirin gue dari rumah.
Dan itu bukan pertama kalinya.
Setiap gue bepergian, mama selalu begitu.
Nanyain kabar.
Nanyain cuaca.
Nanyain udah makan atau belum.
Hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa.
Padahal kalau dipikir-pikir, itu bentuk perhatian yang luar biasa.
Akhirnya sebelum pulang, gue muter cari oleh-oleh.
Bukan karena kewajiban.
Tapi karena pengen bawa sesuatu yang bisa bikin beliau senang.
Awalnya gue lihat banyak pilihan.
Ada kerajinan tangan.

Ada kaos.
Ada gantungan kunci.
Ada macam-macam makanan khas Bali.
Tapi makin lama gue muter, makin bingung juga.
Karena gue sadar satu hal.
Mama sebenarnya gak terlalu peduli sama harga oleh-oleh.
Beliau lebih peduli sama cerita di baliknya.
Dan akhirnya gue berhenti di sebuah toko oleh-oleh.
Di sana gue lihat tumpukan pie susu enaaak.
Sederhana.
Tapi entah kenapa langsung kepikiran mama.
Karena setiap kali ada camilan di rumah, beliau selalu orang pertama yang nyuruh semua orang makan duluan.
Beliau jarang beli sesuatu buat dirinya sendiri.
Tapi selalu senang kalau bisa berbagi.
Jadi gue pikir, pie susu ini cocok.
Bisa dinikmati bareng-bareng.
Bisa dimakan sambil minum teh sore.
Bisa jadi teman ngobrol keluarga.
Akhirnya gue bawa beberapa kotak pulang.
Dan jujur aja, gue gak berekspektasi macam-macam.
Gue pikir paling mama cuma bilang terima kasih.
Udah.
Ternyata gue salah.
Begitu kotaknya dibuka, senyumnya langsung muncul.
Senyum yang sederhana.
Tapi hangat banget.
Beliau langsung bilang,
“Wah, pie susu kesukaan mama.”
Padahal sebelumnya gue gak pernah benar-benar sadar kalau beliau memang suka pie susu.
Dari situ gue belajar sesuatu.
Kadang kebahagiaan orang tua itu sederhana banget.
Bukan barang mahal.
Bukan hadiah mewah.
Kadang cuma karena kita ingat mereka saat sedang jauh.
Dan lucunya lagi, beberapa hari kemudian pie susu yang gue bawa hampir habis.
Bukan karena tamu datang.
Bukan karena dibagi-bagikan.
Tapi karena mama sendiri yang sering mengambil satu demi satu.
Sambil nonton televisi.
Sambil minum teh.
Sambil ngobrol santai.
Waktu itu gue sempat ikut mencoba.
Dan gue ngerti kenapa beliau suka.
Kulit pienya renyah.
Isi susunya lembut.
Manisnya pas.
Bukan tipe makanan yang bikin cepat enek.
Justru bikin pengen ambil lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Dari situ gue mulai paham kenapa pie susu selalu jadi salah satu oleh-oleh paling dicari saat orang pulang dari Bali.
Karena rasanya aman.
Disukai hampir semua umur.
Mudah dibawa.
Dan yang paling penting, selalu berhasil menghadirkan momen kebersamaan.
Beberapa waktu setelah itu, gue menemukan Pie Susu Asli ENAAAK Bali.
Awalnya cuma penasaran.
Karena namanya cukup unik.
Tapi setelah dicoba, gue mengerti kenapa banyak pelanggan kembali membeli.
Ada sesuatu yang berbeda.
Bukan cuma soal rasa.
Tapi soal konsistensi.
Kadang yang bikin kecewa dari oleh-oleh bukan saat pertama kali beli.
Tapi saat beli lagi dan kualitasnya berubah.
Nah, yang gue rasakan dari Pie Susu Asli ENAAAK Bali justru sebaliknya.
Tekstur dan rasanya tetap terjaga.
Gigitan pertama masih menghadirkan kombinasi yang sama.
Kulit pie yang renyah.
Isian susu yang lembut.
Dan rasa yang membuat orang ingin berbagi dengan orang lain.
Karena pada akhirnya, oleh-oleh terbaik bukan yang paling mahal.
Bukan yang paling besar.
Bukan juga yang paling viral.
Tapi yang berhasil menciptakan momen.
Momen saat mama tersenyum.
Momen saat keluarga berkumpul.
Momen saat seseorang merasa diingat meskipun kita sedang jauh.
Dan setiap kali gue melihat kotak pie susu di atas meja rumah sekarang, gue selalu teringat satu hal.
Ternyata perjalanan yang paling berkesan bukan hanya tentang tempat yang kita datangi.
Melainkan tentang siapa yang kita bahagiakan saat pulang nanti.
Karena sejauh apa pun kita pergi, selalu ada seseorang yang menunggu di rumah.
Dan kadang, satu kotak Pie Susu Asli ENAAAK Bali sudah cukup untuk mengatakan:
“Aku ingat kamu waktu di sana.”
Kalimat itu mungkin tidak pernah terucap.
Tapi sering kali terasa lewat hal-hal sederhana yang kita bawa pulang.

