Pernah gak sih lo lagi packing koper buat ke luar negeri,
terus bengong depan kasur sambil mikir:
“Gue mau bawa oleh-oleh apa ya yang Bali banget, tapi gak ribet?”
Kaos? Udah mainstream.
Gantungan kunci? Kadang malah nyelip entah ke mana.
Patung? Berat.
Parfum Bali? Takut bocor.
Dan di titik itu, biasanya orang baru keinget satu hal sederhana:
pie susu Bali.
Lucunya, pie enaaak itu kelihatannya simpel.
Tapi justru karena simpel itu, dia jadi gampang diterima siapa aja.
Orang Jepang, Eropa, Australia, bahkan Timur Tengah, rata-rata bisa langsung nyambung sama rasanya.
Manisnya gak lebay.
Teksturnya lembut.
Dan ada cerita “homey” yang kebawa di setiap gigitan.
Di sinilah Pie Susu Asli ENAAAK Bali mulai kelihatan kelasnya.
Awalnya, banyak orang mikir:
“Emang bisa ya pie susu dibawa ke luar negeri?”
Bisa.
Dan udah sering kejadian.
Tapi ya itu, ada satu hal yang sering disepelekan:
cara packing.
Masalahnya bukan di rasa.
Masalahnya ada di perlakuan.
Sama kayak orang.
Kalau diperlakukan asal, ya ringkih juga.
Pertama: pahami dulu karakter pie susu
Pie susu itu bukan kue basah.
Tapi juga bukan biskuit kering.
Dia ada di tengah-tengah.
Kulitnya tipis.
Isinya lembut.
Kalau kepencet? Bisa retak.
Kalau kebanting? Bisa remuk.
Makanya, dari awal mindset-nya harus bener:
pie susu bukan barang “asal masuk koper”.
Dia butuh ruang.
Butuh posisi.
Butuh perhatian.
Kedua: jangan taruh pie susu di koper kosong
Ini kesalahan paling sering.
Koper kosong itu justru bahaya.
Karena di bagasi pesawat, koper lo bakal dilempar, ditumpuk, digeser.
Kalau di dalamnya kosong, semua benturan langsung ke pie susu.
Solusinya simpel tapi sering diremehkan:
jadikan pie susu bagian dari struktur koper.
Taruh di tengah.
Kelilingi dengan baju.
Handuk.
Atau jaket tebal.
Bukan buat disembunyiin,
tapi buat dikasih “bantal”.

Ketiga: posisi lebih penting daripada jumlah
Kadang orang pengen bawa banyak.
Wajar. Namanya juga oleh-oleh.
Tapi kalau jumlahnya bikin pie susu harus berdiri miring,
atau ketindih sepatu,
itu udah tanda bahaya.
Lebih baik bawa lebih sedikit,
tapi utuh, rapi, dan layak disajikan.
Karena pie susu yang sampai dengan kondisi cantik,
kesannya beda banget dibanding pie susu yang retak walau rasanya sama.
Dan kesan pertama itu penting, apalagi buat souvenir internasional.
Keempat: pahami aturan negara tujuan
Ini jarang dibahas, tapi penting.
Beberapa negara cukup ketat soal makanan.
Untungnya, pie susu termasuk kategori pastry kering,
bukan produk segar, bukan daging, bukan cairan.
Biasanya aman.
Tapi tetap, jangan campur pie susu dengan barang yang berbau tajam.
Parfum.
Minyak.
Atau makanan beraroma kuat.
Karena aroma itu bisa “nempel”,
dan rasanya jadi beda.
Kelima: pikirkan cerita di balik oleh-oleh
Ini yang bikin Pie Susu Asli ENAAAK Bali beda.
Waktu lo ngasih pie susu ke orang luar negeri,
sebenernya lo gak cuma ngasih makanan.
Lo lagi ngasih cerita.
Cerita tentang Bali yang hangat.
Tentang jajanan yang biasa dimakan sambil ngopi sore.
Tentang oleh-oleh yang bukan sekadar pajangan.
Dan percaya atau enggak,
orang luar negeri tuh suka hal-hal yang punya cerita sederhana tapi tulus.
Pie susu itu gak sok mewah.
Tapi justru karena itu, dia terasa jujur.
Keenam: jangan panik sama perjalanan jauh
Ada yang suka overthinking:
“Ini penerbangan belasan jam, aman gak ya?”
Tenang.
Selama packing-nya bener,
pie susu bisa bertahan dengan baik.
Yang penting bukan jaraknya,
tapi bagaimana lo memperlakukannya selama perjalanan.
Sama kayak hubungan jarak jauh.
Bukan soal jauhnya,
tapi cara ngejaganya.
Akhirnya, gue selalu bilang ke orang-orang:
kalau mau bawa oleh-oleh ke luar negeri,
pilih yang gak bikin lo ribet,
tapi bikin penerimanya senyum.
Pie Susu Asli ENAAAK Bali itu masuk kategori itu.
Gak neko-neko.
Gak berisik.
Tapi konsisten enak.
Dan justru di dunia yang serba heboh ini,
hal-hal yang sederhana, rapi, dan tulus
seringkali lebih diingat.
Jadi kalau suatu hari lo berdiri di depan koper,
bingung milih oleh-oleh,
ingat satu hal:
yang jauh itu bukan jaraknya,
tapi kesan yang lo tinggalin.
Dan pie susu,
kalau diperlakukan dengan benar,
bisa jadi souvenir internasional yang bener-bener “kena”.

