Setelah menghabiskan hari pertama dengan bersantai menikmati deburan ombak dan kemeriahan Kuta, hari kedua dari itinerary 7 hari 6 malam kita akan membawa Anda menuju jantung spiritual dan budaya Bali: Ubud. Terletak di perbukitan tengah pulau, Ubud menawarkan kontras yang menyegarkan dari pesisir selatan yang sibuk. Di sini, Anda akan disambut oleh udara yang lebih sejuk, hamparan persawahan hijau, rimbunnya hutan tropis, serta kekayaan tradisi yang tercermin dalam setiap sudut jalan.
Perjalanan ke Ubud tidak lengkap rasanya tanpa membawa bekal camilan yang manis, pastikan Anda menyiapkan Pie Susu Asli Enaaak di tas Anda. Artikel ini merupakan kelanjutan dari Panduan Lengkap Itinerary Liburan 7 Hari 6 Malam di Bali. Jangan lupa juga untuk mengintip petualangan hari sebelumnya di Hari 1: Kedatangan & Menikmati Senja Kuta dan bersiap untuk esok hari di Hari 3: Keindahan Kintamani & Danau Batur.
Pagi Hari: Perjalanan Menuju Ubud dan Monkey Forest
Bangunlah lebih pagi pada hari ini. Nikmati sarapan yang disediakan oleh hotel Anda di Kuta/Seminyak, lalu segera check-out. Perjalanan dari Seminyak atau Kuta menuju Ubud memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam berkendara, tergantung kondisi lalu lintas.
Sacred Monkey Forest Sanctuary (Mandala Suci Wenara Wana)
Destinasi pertama Anda setibanya di Ubud adalah Monkey Forest, salah satu tempat wisata paling terkenal di Bali. Hutan lindung seluas 12,5 hektar ini bukan sekadar kebun binatang alami, melainkan kompleks candi dan kawasan konservasi penting bagi masyarakat Hindu Bali.
Hutan ini dihuni oleh lebih dari 1.000 ekor kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Saat Anda melangkah masuk melalui gerbang, rimbunnya pepohonan besar yang berumur ratusan tahun akan langsung memberikan nuansa magis dan misterius.
Tips Mengunjungi Monkey Forest:
– Jangan Membawa Makanan: Kera-kera di sini sangat pintar dan memiliki penciuman tajam. Simpan semua makanan, termasuk Pie Susu Enaaak Anda, dengan aman di dalam tas yang tertutup rapat.
– Jaga Barang Berharga: Kacamata hitam, topi, dan perhiasan berkilau bisa menarik perhatian kera jahil. Sebaiknya lepaskan dan simpan di dalam tas.
– Jangan Menatap Mata Kera Secara Langsung: Bagi kera, kontak mata langsung bisa dianggap sebagai ancaman atau tantangan.
– Jelajahi Pura di Dalam Hutan: Terdapat tiga pura suci di dalam area ini, yaitu Pura Dalem Agung, Pura Beji, dan Pura Prajapati. Meskipun wisatawan tidak diizinkan masuk ke area sembahyang utama, mengamati arsitekturnya dari luar sudah sangat mengagumkan.
Menjelang Siang: Keindahan Terasering Sawah Tegalalang
Setelah puas berinteraksi dengan satwa dan alam di Monkey Forest, perjalanan dilanjutkan ke utara Ubud, menuju Tegalalang Rice Terrace. Ini adalah salah satu lanskap paling ikonik di Bali yang sering menghiasi kartu pos dan laman Instagram.
Tegalalang memamerkan sistem irigasi tradisional Bali yang disebut “Subak”. Sistem ini bukan sekadar metode pengairan, melainkan filosofi hidup yang mengutamakan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana).
Aktivitas Seru di Tegalalang:
- Trekking Menembus Sawah: Jangan hanya berfoto dari pinggir jalan. Turunlah ke area persawahan, berjalan menelusuri pematang sawah, dan rasakan kedamaian yang ditawarkan oleh hamparan warna hijau yang memanjakan mata.
- Bermain Bali Swing: Di sekitar Tegalalang, terdapat banyak penyedia jasa ayunan raksasa (swing). Berayun di atas lembah persawahan hijau memberikan sensasi adrenalin yang dipadukan dengan pemandangan spektakuler.
- Mencicipi Kopi Luwak: Beberapa warung di sekitar area sawah menawarkan sesi mencicipi kopi, termasuk kopi Luwak yang terkenal. Duduk di pendopo kayu, menyeruput kopi panas sambil memandangi terasering adalah cara terbaik untuk bersantai.
Makan Siang: Kuliner Autentik Khas Ubud
Setelah banyak berjalan kaki, waktunya mengisi tenaga. Ubud adalah surga kuliner bagi para pecinta makanan organik, vegan, hingga hidangan tradisional Bali yang kaya rempah.
Salah satu restoran paling legendaris yang harus Anda kunjungi adalah Babi Guling Ibu Oka (bagi yang non-Muslim). Berlokasi strategis dekat dengan Istana Ubud, babi guling di sini disajikan dengan daging yang lembut, kulit yang super renyah, dan bumbu base genep yang meresap sempurna.
Bagi yang mencari alternatif halal atau hidangan lain, Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku adalah pilihan juara. Nasi campur ayam ini disajikan dengan ayam suwir pedas, sate lilit, telur, sayur urap, dan taburan kacang goreng yang sangat menggugah selera. Jika Anda mencari suasana cafe yang estetik dengan menu sehat (smoothie bowls, salad), kawasan Jalan Hanoman dan Jalan Gootama dipenuhi dengan pilihan cafe berkelas internasional.
Sore Hari: Menyusuri Pusat Budaya – Puri Saren Agung dan Pasar Seni
Setelah perut kenyang, saatnya menjelajahi pusat kota Ubud yang berjarak sangat dekat satu sama lain.
Puri Saren Agung (Istana Ubud)
Berada tepat di persimpangan jalan utama Ubud, Puri Saren Agung adalah kediaman resmi keluarga Kerajaan Ubud. Tempat ini menjadi pusat pelestarian seni tradisional. Anda diizinkan masuk ke area pekarangan depan secara gratis untuk mengagumi arsitektur tradisional Bali yang rumit, ukiran pintu (angkul-angkul) yang berlapis emas, dan patung-patung penjaga istana. Puri ini memberikan gambaran sekilas tentang kehidupan bangsawan Bali masa lampau.
Pasar Seni Ubud (Ubud Art Market)
Tepat di seberang Istana Ubud, terdapat Pasar Seni Ubud yang sangat ramai. Pasar ini buka sejak pagi, namun sore hari adalah waktu yang asyik untuk berbelanja tanpa terlalu tersengat terik matahari.
Di sini, Anda akan menemukan ribuan kerajinan tangan lokal. Mulai dari tas rotan, topi anyaman, lukisan, patung kayu, kain pantai, baju barong, hingga perhiasan perak buatan pengrajin Celuk.
Seni Menawar (Bargaining):
Berbelanja di pasar seni mewajibkan Anda untuk menawar harga. Mulailah tawar-menawar di sekitar 40-50% dari harga awal yang diminta pedagang. Lakukan proses ini dengan senyuman dan nada yang ramah. Jika harganya belum cocok, Anda bisa mencoba berjalan pergi; seringkali pedagang akan memanggil Anda kembali dengan harga yang lebih murah.
Malam Hari: Menikmati Pertunjukan Tari Tradisional Bali
Liburan ke Ubud belum lengkap tanpa menonton pertunjukan tari tradisional. Setiap malam, di beberapa lokasi sekitar Ubud, dipentaskan berbagai tarian epik.
Salah satu yang paling populer adalah pementasan Tari Kecak Fire Dance atau Tari Legong yang diadakan di halaman Puri Saren Agung, Pura Dalem Ubud, atau Pura Taman Saraswati. Tari Kecak sangat unik karena tidak menggunakan alat musik, melainkan hanya paduan suara “cak-cak-cak” dari puluhan pria bertelanjang dada. Tarian ini menceritakan epos Ramayana, menceritakan kisah cinta Rama dan Sita yang diculik oleh Rahwana, hingga pertarungan heroik Hanoman sang monyet putih yang melompat di tengah kobaran api.
Menonton pertunjukan ini di bawah langit malam Ubud, dengan pencahayaan obor dan tata panggung arsitektur pura, memberikan pengalaman budaya yang sangat mendalam dan magis.
Menutup Hari dan Istirahat
Setelah pertunjukan usai, Ubud biasanya mulai beranjak sepi sekitar pukul 10 malam. Kembali ke villa atau hotel Anda di Ubud, seduh secangkir teh kamomil atau jahe hangat. Nikmati keheningan malam Ubud yang hanya dipecahkan oleh suara jangkrik dan kodok dari sawah terdekat. Jangan lupa, cemilan Pie Susu Asli Enaaak selalu cocok untuk mendampingi waktu bersantai Anda sebelum tidur.
Istirahatlah dengan cukup, karena besok pagi petualangan kita akan bergeser ke dataran tinggi yang sejuk.
FAQ: Tips Eksplorasi Ubud
1. Apakah berjalan kaki di Ubud nyaman?
Ubud pusat (Jalan Raya Ubud, Jalan Monkey Forest, dan Jalan Hanoman) sangat ramah pejalan kaki. Namun trotoarnya bisa sempit dan tidak rata di beberapa tempat. Pastikan Anda memakai alas kaki yang nyaman.
2. Berapa harga tiket masuk Monkey Forest dan Tegalalang?
Tiket Monkey Forest berkisar Rp 80.000 untuk dewasa (harga bisa berubah). Sedangkan Tegalalang seringkali hanya memungut biaya donasi masuk kawasan (sekitar Rp 15.000 – Rp 20.000), di luar biaya aktivitas seperti swing.
3. Kapan waktu terbaik menonton tari tradisional?
Pertunjukan biasanya dimulai pukul 19:30 WITA. Disarankan untuk membeli tiket pada sore hari melalui penjual tiket resmi di pinggir jalan atau di tempat acara, lalu datang 30 menit lebih awal untuk mendapatkan posisi duduk strategis di barisan depan.
4. Apakah banyak nyamuk di Ubud?
Karena lokasinya yang dekat dengan alam, sawah, dan pepohonan, nyamuk cukup banyak terutama di pagi dan sore hari. Membawa dan menggunakan losion anti nyamuk (mosquito repellent) adalah suatu keharusan.
Ubud memberikan kedamaian yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Setelah meresapi energi spiritualnya, besok kita akan menyambut fajar dari tempat yang tak kalah spektakuler!
