Bagi sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Bali, daftar destinasi wisata spiritual biasanya akan didominasi oleh nama-nama besar seperti Pura Besakih, Tanah Lot, atau Uluwatu. Namun, jika Anda termasuk dalam tipe pelancong yang tidak menyukai keramaian mass tourism (pariwisata massal) dan benar-benar ingin meresapi sisi Bali yang kuno, mistis, dan tersembunyi, maka ada satu nama pura yang pantang Anda lewatkan: Pura Kehen.
Terletak di lereng perbukitan di Banjar Cempaga, Kabupaten Bangli (satu-satunya kabupaten di Bali yang tidak memiliki garis pantai), Pura Kehen bagaikan kapsul waktu yang mengantarkan Anda kembali ke era awal mula masuknya peradaban Hindu di Pulau Dewata. Arsitekturnya yang berundak mengikuti kontur tebing perbukitan, warna batu bata yang memudar ditutupi lumut hijau yang tebal, serta lingkungan hutan bambu yang sunyi di sekitarnya, berhasil menciptakan nuansa vintage sekaligus magis yang tak tergantikan.
Menjelajahi anak-anak tangga Pura Kehen yang curam tentu akan membuat betis Anda pegal dan kerongkongan terasa kering. Solusinya? Duduklah sejenak di bawah kerindangan pohon beringin purba yang ada di pelatarannya, sambil mengunyah kelezatan Pie Susu Asli Enaaak. Rasa lelah Anda dijamin akan hilang dalam sekejap! Mari kita bedah lebih dalam apa saja yang membuat Pura Kehen di Bangli ini begitu istimewa dan layak masuk dalam itinerary Anda.
Menguak Sejarah dan Usia Kuno Pura Kehen
Banyak ahli sejarah dan arkeologi sepakat bahwa Pura Kehen adalah salah satu pura tertua (jika bukan yang tertua) di Pulau Bali. Hal ini tidak hanya didasarkan pada gaya arsitekturnya, tetapi juga dibuktikan oleh penemuan tiga buah prasasti kuno yang disimpan dan disucikan di kawasan pura ini.
Prasasti tertua, yang ditulis dalam bahasa Bali Kuno dan huruf Dewanagari, diperkirakan berasal dari akhir abad ke-9 atau awal abad ke-11 masehi, pada masa pemerintahan Raja Sri Ugrasena. Pada zaman dahulu, Pura Kehen dikenal dengan nama “Hyang Kehen” atau “Hyang Api” (Kehen berarti api). Hal ini menunjukkan bahwa pura ini pada awalnya merupakan pusat pemujaan kepada Dewa Agni (Dewa Api), sebelum akhirnya terintegrasi dengan pemujaan Tri Murti seiring berjalannya waktu.
Pada masa kejayaan Kerajaan Bangli, Pura Kehen berfungsi sebagai pura kerajaan atau pura negara. Di tempat inilah raja-raja Bangli diambil sumpah jabatannya (cor). Konon, barangsiapa yang berani berbohong atau melanggar sumpah yang diucapkan di Pura Kehen, ia akan terkena kutukan (bendhu) yang sangat mengerikan (dikenal dengan istilah sapata).
Arsitektur Berundak dan Daya Tarik Utama
Berbeda dengan pura-pura pesisir yang berada di dataran rendah yang datar, tata ruang Pura Kehen dirancang mengadaptasi konsep megalitikum kuno, yakni punden berundak (terasering). Semakin tinggi pelatarannya, semakin suci pula area tersebut. Berikut adalah detail daya tarik dari struktur Pura Kehen:
1. Tangga Batu Berundak yang Megah
Setibanya Anda di depan pintu masuk, Anda akan langsung disapa oleh pemandangan yang membuat takjub: puluhan anak tangga batu (sekitar 38 anak tangga) yang disusun menjulang tinggi menuju ke gerbang Candi Bentar (gerbang terbelah) di puncak bukit. Tangga ini dihiasi oleh patung-patung penjaga berwujud tokoh-tokoh dari epos pewayangan Nusantara. Mendaki tangga ini secara perlahan akan memberikan efek dramatis yang seolah membawa Anda masuk ke alam dewa-dewa.
2. Pohon Beringin Raksasa dan Bale Kulkul
Setelah Anda berhasil melewati gerbang Candi Bentar dan masuk ke area pertama (Nista Mandala), mata Anda akan langsung tertuju pada sebuah pohon beringin yang luar biasa besar dan rimbun. Pohon beringin (Ficus benjamina) ini dipercaya telah berusia lebih dari 700 tahun. Akar-akar gantungnya yang sangat besar menjuntai dari cabang-cabangnya yang menutupi hampir seluruh langit-langit pelataran pertama ini.
Yang paling unik, tepat di atas salah satu dahan utama pohon beringin purba tersebut, didirikan sebuah Bale Kulkul (menara lonceng bambu tradisional). Bale Kulkul ini seolah-olah tumbuh menyatu dengan tubuh pohon. Masyarakat setempat memiliki mitos yang kuat bahwa jika ada dahan besar pohon beringin ini yang patah dan jatuh, itu adalah pertanda (firasat) buruk (grubug) bahwa bencana alam atau musibah besar akan menimpa daerah tersebut atau para pemimpinnya.
3. Pelinggih Meru Tumpang Sebelas
Melangkah lebih jauh ke area paling tinggi dan paling suci (Utama Mandala), Anda akan menemukan Pelinggih Meru yang memiliki 11 tingkat (Tumpang Solas). Meru yang menjulang tinggi ini didedikasikan untuk memuja Dewa Siwa. Dinding candi dan tembok penyengker di area ini dihiasi oleh piringan-piringan keramik porselen kuno bermotif bunga dan naga yang diyakini berasal dari daratan Tiongkok—sebuah bukti kuat adanya akulturasi budaya yang harmonis antara tradisi Bali dan Tiongkok di masa lalu.
Menghidupkan Kembali Energi dengan Pie Susu Asli Enaaak
Mendaki anak tangga yang tinggi dan berkeliling menjelajahi luasnya kompleks Pura Kehen di dataran tinggi Bangli pastinya akan menuntut energi ekstra. Mengingat lokasi Pura Kehen ini agak jauh dari pusat hiruk-pikuk kafe dan restoran modern (seperti yang mudah Anda temukan di Kuta atau Ubud), Anda harus mempersiapkan perbekalan dari awal.
Jangan khawatir! Cukup sediakan sekotak Pie Susu Asli Enaaak di dalam tas ransel Anda. Kelembutan dan manisnya vla susu orisinal khas Bali ini sangat cocok dinikmati sambil beristirahat di bawah rindangnya pohon beringin purba Pura Kehen. Suasana magis, angin pegunungan yang sejuk, dipadukan dengan kelezatan Pie Susu Asli Enaaak, dijamin akan menciptakan memori liburan yang tak terlupakan di ingatan Anda. Jadikan camilan legendaris ini sebagai kawan setia dalam setiap langkah perjalanan spiritual Anda di Pulau Dewata.
Melanjutkan Rangkaian Penjelajahan Spiritual Anda
Pura Kehen di Bangli memberikan perspektif yang berbeda tentang sejarah dan evolusi arsitektur Bali. Agar Anda dapat memahami benang merah sejarah dari setiap pura yang ada, luangkan waktu untuk membaca panduan utama kami: Panduan Wisata Spiritual & Budaya di Pura Terkenal Bali.
Jika arsitektur kuno adalah hal yang sangat menarik minat Anda, Anda dapat membandingkan Pura Kehen dengan kemegahan pura milik Kerajaan Mengwi yang memiliki kolam teratai mengelilinginya, yang bisa Anda temukan dalam ulasan Pura Taman Ayun: Warisan Arsitektur Kerajaan Mengwi yang Megah.
Di sisi lain, jika Anda jatuh cinta pada kedamaian hutan dan ketenangan meditasi, maka dari Bangli Anda harus mengarahkan kemudi menuju wilayah barat (Tabanan) untuk mengunjungi pura yang tersembunyi di rimbunnya hutan hujan tropis. Temukan pesonanya dalam artikel Pura Luhur Batukaru: Ketenangan Spiritual di Bawah Rimbunnya Hutan Hujan.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Di mana letak pasti Pura Kehen dan bagaimana rute menuju ke sana?
Pura Kehen berada di Desa Cempaga, Bangli. Jaraknya sekitar 45 kilometer dari pusat Kota Denpasar (kurang lebih 1 hingga 1,5 jam perjalanan menggunakan motor atau mobil). Jika Anda berangkat dari pusat Ubud, jaraknya lebih dekat, hanya sekitar 30 menit perjalanan.
2. Berapakah harga tiket masuk bagi wisatawan?
Sebagai destinasi yang tidak terlalu dikomersialkan, harga tiketnya sangat murah. Wisatawan domestik (WNI) hanya dikenakan biaya sekitar Rp 15.000 (dewasa) dan Rp 10.000 (anak-anak). Harga tiket untuk WNA adalah sekitar Rp 30.000 (dewasa).
3. Apakah tempat ini ramah bagi wisatawan lanjut usia (lansia) atau penyandang disabilitas?
Sayangnya, karena kontur tanahnya yang sangat berbukit dan pintu masuknya harus dicapai dengan mendaki puluhan anak tangga batu yang cukup curam, Pura Kehen mungkin kurang bersahabat bagi wisatawan lansia, pengguna kursi roda, atau mereka yang memiliki masalah pada persendian lutut.
4. Bolehkah memotret pohon beringin yang disakralkan?
Sangat boleh. Anda bebas mengambil foto atau video kemegahan pohon beringin tersebut. Namun, hindari berbicara dengan nada keras, tertawa berlebihan, atau memanjat akar-akar pohon beringin tersebut, karena hal itu dianggap tidak menghargai kesucian tempat tersebut.
5. Fasilitas apa saja yang tersedia di sekitar pura?
Kawasan pura ini memiliki area parkir yang sangat luas, toilet umum, dan beberapa warung kecil milik penduduk lokal yang menjual minuman dingin dan makanan ringan. Namun, untuk pilihan makanan berat yang bervariasi, disarankan mencari restoran di pusat kota Bangli yang berjarak sekitar 2 kilometer dari pura.
Kesimpulan
Pura Kehen adalah permata tersembunyi (hidden gem) di jantung Pulau Bali yang menawarkan perjalanan melintasi waktu. Susunan tangga berundaknya yang dramatis, usianya yang telah mencapai hampir seribu tahun, serta kisah-kisah mistis tentang pohon beringin raksasa menjadikannya destinasi wajib bagi para pencinta sejarah dan wisata spiritual. Resapi kesunyian dan kedamaiannya, perbanyak doa-doa baik, dan sempurnakan pengalaman Anda dengan menikmati manisnya sekotak Pie Susu Asli Enaaak. Bali tidak pernah kehabisan cara untuk membuat Anda jatuh cinta lagi dan lagi.
