Saat kita membicarakan Wisata Budaya & Seni di Bali yang Tidak Boleh Dilewatkan, ada satu nama yang berdiri paling megah, paling suci, dan paling dihormati oleh seluruh masyarakat Hindu di Bali: Pura Besakih. Dikenal dengan julukan Mother Temple of Bali (Pura Induk Bali), Besakih bukan sekadar sebuah bangunan ibadah tunggal, melainkan sebuah kompleks pura raksasa yang membentang di lereng barat daya Gunung Agung, gunung berapi tertinggi dan paling disakralkan di Pulau Dewata. Kunjungan ke pura ini tidak hanya menjanjikan pemandangan arsitektur yang spektakuler dengan latar gunung yang menjulang ke awan, tetapi juga pemahaman yang mendalam mengenai sistem kepercayaan, tatanan sosial, dan budaya masyarakat Bali secara menyeluruh.
Mengeksplorasi kompleks pura yang memiliki ribuan anak tangga di ketinggian hampir 1.000 meter di atas permukaan laut ini tentu membutuhkan fisik yang prima. Setelah lelah mendaki dan mengagumi ukiran batu berusia ratusan tahun, sangat tepat jika Anda memanjakan diri sejenak di area istirahat. Menggigit pinggiran renyah dari Pie Susu Asli Enaaak yang dipadukan dengan vla susu manis di tengahnya akan langsung mengembalikan energi Anda. Membawa bekal Pie Susu Enaaak saat mendaki ke Pura Besakih adalah rahasia kecil agar liburan budaya Anda tetap berenergi dan menyenangkan.
Sejarah dan Mitos Berdirinya Pura Besakih
Nama “Besakih” dipercaya berasal dari kata “Basuki”, yang merujuk pada Naga Basuki, sosok mitologi ular naga raksasa yang diyakini bersemayam di perut Gunung Agung untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Sejarah pembangunan Pura Besakih terentang sangat panjang, jauh sebelum Kerajaan Majapahit menguasai Bali. Bukti-bukti arkeologis berupa menara batu punden berundak menunjukkan bahwa tempat ini sudah digunakan sebagai tempat pemujaan roh leluhur (animisme dan dinamisme) pada zaman megalitikum (zaman batu besar) sekitar abad ke-1 Masehi.
Secara historis, peletakan batu pertama berdirinya Pura Besakih yang beraliran Hindu sering dikaitkan dengan kedatangan seorang pendeta suci (Maha Rsi) dari India bernama Rsi Markandeya pada abad ke-8. Konon, dalam perjalanannya menyebarkan ajaran Hindu di Bali, beliau menerima wahyu saat bermeditasi di lereng Gunung Agung dan kemudian menanam kendi berisi logam mulia lima warna (Panca Datu) sebagai fondasi awal berdirinya Pura Besakih.
Keajaiban Pura Besakih semakin terbukti ketika Gunung Agung meletus dengan sangat dahsyat pada tahun 1963. Letusan tersebut menghancurkan banyak desa di sekitarnya dan memakan ribuan korban jiwa. Namun secara ajaib, aliran lava panas dan awan panas berbelok tepat beberapa meter sebelum menyentuh bangunan utama Pura Besakih, sehingga pura ini selamat dari kehancuran total. Masyarakat meyakini ini adalah bukti nyata dari perlindungan Sang Hyang Widhi (Tuhan) dan para dewa.
Kompleksitas Arsitektur dan Tata Ruang Pura Besakih
Pura Besakih bukanlah satu pura, melainkan terdiri dari 23 pura yang terpisah namun saling berhubungan. Pura-pura ini tersebar di enam tingkatan terasering yang mendaki ke atas, melambangkan perjalanan spiritual menuju puncak pencerahan (Moksha). Sama halnya seperti konsep pembagian wilayah di Desa Penglipuran, Pura Besakih dibangun berdasarkan filosofi keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos.
1. Pura Penataran Agung (Pusat Segala Pemujaan)
Pura Penataran Agung adalah pura terbesar dan paling sentral di kompleks ini. Pura ini didedikasikan untuk memuja Dewa Siwa (sang pelebur). Di sinilah Anda akan menemukan Padmasana Tiga, sebuah menara batu bertingkat tiga yang sangat sakral. Padmasana ini melambangkan Trimurti (tiga manifestasi utama Tuhan dalam Hindu): Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara), dan Siwa (pelebur). Area pelataran pura ini sangat luas dan menjadi pusat segala kegiatan upacara besar.
2. Pura Kiduling Kreteg
Terletak di sisi selatan dari Penataran Agung, pura ini didedikasikan untuk memuja Dewa Brahma. Sesuai dengan lambang Dewa Brahma, warna dominan untuk umbul-umbul dan kain penghias (ider-ider) di pura ini adalah merah.
3. Pura Batu Madeg
Terletak di sisi utara dari Penataran Agung, pura ini merupakan tempat stana (kediaman) Dewa Wisnu. Warna yang melambangkan pura ini adalah hitam. Di pura ini terdapat sebuah batu berdiri (menhir) yang merupakan peninggalan zaman megalitikum, yang membuktikan bahwa sebelum pengaruh Hindu datang, masyarakat Bali kuno sudah menganggap tempat ini suci.
4. Pura Pedarman (Pura Leluhur Keluarga)
Salah satu hal paling unik dari Besakih adalah keberadaan belasan “Pura Pedarman”. Pura Pedarman adalah pura yang khusus didedikasikan untuk memuja roh leluhur berdasarkan garis keturunan klen (soroh) atau kasta masyarakat Bali. Setiap keluarga di Bali, baik itu dari kasta Brahmana, Ksatria, Waisya, maupun Sudra, memiliki Pura Pedarman mereka masing-masing di kompleks Besakih ini. Inilah mengapa Besakih disebut Pura Induk; karena ia merangkum dan menyatukan seluruh masyarakat Bali tanpa pandang bulu dalam satu kawasan suci.
Upacara Besar di Pura Besakih
Sebagai pusat kegiatan keagamaan, Pura Besakih hampir tidak pernah sepi dari upacara (yadnya). Jika Anda berkunjung di waktu yang tepat, Anda akan disuguhi tontonan seni dan budaya yang luar biasa megah.
Karya Ida Bhatara Turun Kabeh: Ini adalah upacara tahunan terbesar yang jatuh pada bulan purnama ke-10 (Purnama Kadasa) menurut kalender Saka Bali (biasanya jatuh sekitar bulan Maret atau April). Selama kurang lebih sebulan penuh, seluruh umat Hindu dari seluruh pelosok Bali akan berbondong-bondong datang untuk bersembahyang. Pemandangan ribuan orang berpakaian putih bersih membawa sesajen (banten) yang menjulang tinggi di atas kepala sambil menaiki ratusan anak tangga adalah sebuah karya seni kehidupan yang sangat menggetarkan hati.
Karya Agung Eka Dasa Rudra: Ini adalah upacara penyucian alam semesta dalam skala paling masif yang hanya diadakan sekali dalam 100 tahun! Upacara terakhir diadakan pada tahun 1979.
Melihat ritual dan prosesi adat di sini mungkin akan mengingatkan Anda pada kekhusyukan masyarakat saat melakukan ritual melukat di air suci Tirta Empul. Keduanya menawarkan sensasi penyucian, namun Besakih menawarkannya dalam skala yang jauh lebih kolosal dan megah.
Panduan dan Etika Mengunjungi Pura Besakih
Berkunjung ke pura sebesar Besakih membutuhkan persiapan khusus. Mengingat statusnya yang sangat disucikan, aturan adat diberlakukan dengan sangat ketat bagi wisatawan:
1. Sewa Pemandu Lokal Berlisensi (Wajib)
Banyak turis yang merasa tersesat atau kebingungan karena kompleks ini sangat besar dan banyak tangga. Saat ini, pengelola sudah mengatur agar wisatawan mancanegara maupun domestik sangat disarankan (bahkan pada titik tertentu, wajib) menggunakan jasa pemandu lokal berseragam resmi yang disediakan di loket tiket utama. Selain mencegah Anda masuk ke area terlarang, pemandu akan menjelaskan sejarah setiap relief pura dengan sangat detail.
2. Aturan Berpakaian yang Sangat Ketat
Sama seperti pura lainnya, Anda wajib mengenakan kain sarung (kamen) dan selendang (senteng). Bagi wanita yang sedang datang bulan (menstruasi), sedang hamil besar, atau baru saja melahirkan dan belum melakukan upacara penyucian, dilarang keras untuk masuk ke seluruh area pura. Hal ini bukan bentuk diskriminasi, melainkan keyakinan turun-temurun mengenai keseimbangan energi kesucian (cuntaka) yang harus dipatuhi.
3. Batas Akses Masuk Wisatawan
Wisatawan yang tidak berniat untuk sembahyang (hanya untuk turisme) biasanya hanya diperbolehkan mengeksplorasi area pelataran (jaba pisan dan jaba tengah) dari pura-pura tersebut. Anda tidak diizinkan masuk ke area jeroan (area terdalam) atau menaiki tangga utama menuju pintu Padmasana Tiga, karena area tersebut khusus untuk umat yang sedang khusyuk berdoa. Jangan pernah nekat menerobos aturan ini.
4. Persiapan Fisik dan Cuaca
Pura Besakih berada di daerah pegunungan yang cuacanya sulit diprediksi. Kadang sangat terik, kadang tiba-tiba turun kabut tebal dan hujan gerimis. Bawalah payung, topi, dan pakai alas kaki yang tidak licin karena Anda akan banyak mendaki tangga batu.
Bawa Pulang Kenangan Manis dari Bali
Perjalanan mengeksplorasi sisi timur dan utara Bali menuju Pura Besakih biasanya memakan waktu seharian penuh, terutama jika Anda berangkat dari kawasan Selatan seperti Kuta atau Seminyak. Sepanjang perjalanan pulang yang panjang, di tengah kemacetan atau rasa kantuk, Anda membutuhkan sesuatu yang bisa membangkitkan suasana hati.
Membuka sekotak Pie Susu Asli Enaaak di dalam mobil adalah solusi terbaik. Tekstur pie yang lembut akan meleleh di mulut Anda, seolah menghapus semua rasa penat mendaki tangga Besakih. Jadikan camilan legendaris ini tidak hanya sebagai pengganjal perut di perjalanan, tetapi juga buah tangan wajib untuk rekan kerja di kantor. Kisah Anda menjelajahi keagungan Pura Besakih akan semakin seru saat diceritakan sambil menikmati lezatnya Pie Susu Enaaak.
Kesimpulan
Pura Besakih adalah jantung spiritual dan kultural Pulau Bali. Kemegahan arsitekturnya yang merangkul lereng gunung, sejarahnya yang mistis, serta peran vitalnya dalam menyatukan seluruh elemen masyarakat Hindu Bali menjadikannya destinasi yang sama sekali tidak bisa diabaikan. Ini adalah tempat di mana Anda akan merasa begitu kecil di hadapan karya keagungan Tuhan sekaligus merasa takjub pada kemampuan seni arsitektur manusia masa lampau. Masukkan Pura Besakih dalam petualangan budaya Anda, hormati adat istiadatnya, dan jangan lupa lengkapi kebahagiaan Anda dengan Pie Susu Asli Enaaak.
FAQ Tentang Pura Besakih
1. Berapa harga tiket masuk ke Pura Besakih?
Harga tiket masuk untuk wisatawan domestik biasanya berkisar antara Rp 50.000, sedangkan untuk wisatawan mancanegara sekitar Rp 150.000. Harga ini biasanya sudah termasuk penyewaan kain kamen dan selendang, transportasi shuttle (ojek khusus) dari tempat parkir ke pintu masuk utama, serta jasa pemandu lokal berlisensi resmi.
2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berkeliling Pura Besakih?
Untuk sekadar berkeliling pelataran utama dan berfoto-foto, Anda membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam. Namun, jika Anda ingin mengeksplorasi hingga ke pura-pura pedarman yang ada di tingkatan paling atas, Anda mungkin membutuhkan waktu hingga 3 jam atau lebih.
3. Apakah Pura Besakih buka setiap hari?
Ya, Pura Besakih buka setiap hari (kecuali pada Hari Raya Nyepi di mana seluruh aktivitas di Bali dihentikan). Namun, pada hari-hari besar upacara keagamaan, beberapa akses mungkin akan ditutup untuk turis, atau suasana akan sangat padat dan macet.
4. Apakah ada larangan mengambil foto di dalam Pura Besakih?
Anda bebas mengambil foto pemandangan, arsitektur, dan pelataran pura. Namun, Anda sangat dilarang mengambil foto wajah orang yang sedang bersembahyang dari jarak dekat, dilarang menggunakan lampu kilat (flash) ke arah pendeta (pemangku) yang sedang memimpin doa, dan dilarang menerbangkan drone tanpa izin khusus dari pihak pengelola desa adat (prauru).
5. Bisakah saya menemukan toko Pie Susu Asli Enaaak di kawasan Pura Besakih?
Kawasan Besakih adalah kawasan pegunungan suci yang kebanyakan menjual souvenir khas pura (baju, dupa, kerajinan). Untuk mendapatkan Pie Susu Asli Enaaak, Anda disarankan membelinya terlebih dahulu di toko cabang resmi mereka di area perkotaan Denpasar sebelum Anda memulai perjalanan naik ke Besakih, atau memesannya secara online agar diantar ke hotel Anda saat Anda pulang.
