Menelusuri Jejak Ketenangan di Desa Penglipuran: Desa Terbersih di Dunia

Di tengah gemerlapnya pariwisata modern Bali dengan deretan beach club mewah dan kafe-kafe hipster yang selalu dipadati pengunjung, ada sebuah tempat di mana waktu seolah berhenti berdetak. Tempat itu adalah Desa Penglipuran, sebuah desa adat tradisional yang berlokasi di Kabupaten Bangli, berada di dataran tinggi dengan udara yang sejuk dan menyegarkan. Bagi Anda yang sedang mencari kedamaian jiwa dan ingin melihat bentuk asli peradaban tradisional Bali, Desa Penglipuran adalah destinasi yang wajib masuk dalam daftar Wisata Budaya & Seni di Bali yang Tidak Boleh Dilewatkan.

Mengunjungi desa adat yang sangat tenang ini akan memberikan Anda perspektif baru tentang arti hidup harmonis. Setelah berkeliling dan banyak berjalan kaki menikmati keindahan arsitektur desa yang tertata rapi, Anda pasti membutuhkan camilan untuk mengembalikan energi. Menyantap sepotong Pie Susu Asli Enaaak yang manis dan lezat sambil duduk beristirahat di bale banjar desa bisa menjadi penutup perjalanan budaya yang sempurna.

Asal-Usul Nama dan Sejarah Desa Penglipuran

Sebelum melangkah lebih jauh menyusuri jalanan desa yang terbuat dari batu bata, mari kita kenali lebih dulu sejarahnya. Menurut tokoh masyarakat setempat, nama “Penglipuran” berasal dari dua kata, yaitu “Pengeling” dan “Pura”. Kata “Pengeling” memiliki arti pengingat atau mengingat, sedangkan “Pura” berarti tempat suci leluhur. Jadi, secara harfiah, Penglipuran bermakna sebuah tempat suci untuk mengingat para leluhur. Namun, ada pula literatur lain yang menyebutkan bahwa “Penglipuran” berasal dari kata “Pelipur Lara” (penghibur kesedihan), karena konon raja-raja Bangli pada zaman dahulu sering mengunjungi desa ini untuk menenangkan pikiran mereka yang sedang kalut.

Desa ini diyakini sudah ada sejak berabad-abad lalu dan tata letak serta arsitekturnya tetap dipertahankan keasliannya hingga detik ini. Penduduk desa ini adalah keturunan masyarakat Desa Bayung Gede, Kintamani, yang bermigrasi ke wilayah ini. Mereka membawa serta aturan-aturan adat istiadat leluhur, termasuk cara mereka membangun rumah, yang kemudian diwariskan secara turun-temurun tanpa terpengaruh oleh gaya hidup modern.

Mengapa Desa Penglipuran Dinobatkan Sebagai Desa Terbersih di Dunia?

Pada tahun 2016, Desa Penglipuran menerima penghargaan internasional bergengsi dari Green Destinations Foundation, yang menobatkannya sebagai salah satu dari tiga desa terbersih di dunia, bersanding dengan Desa Giethoorn di Belanda dan Desa Mawlynnong di India. Penghargaan ini bukanlah isapan jempol belaka. Begitu Anda menginjakkan kaki di pintu masuk desa, Anda akan langsung mengerti mengapa mereka pantas mendapatkannya.

1. Kebijakan Bebas Kendaraan Bermotor
Jalanan utama desa terbentang lurus dari ujung ke ujung tanpa aspal, melainkan menggunakan batu bata yang tersusun sangat rapi dan dihiasi rumput hijau di sela-selanya. Untuk menjaga kualitas udara dan kebersihan desa, kendaraan bermotor (baik mobil maupun sepeda motor) dilarang keras memasuki area jalan utama ini. Wisatawan harus memarkir kendaraan mereka di area parkir yang sudah disediakan di luar gerbang utama. Berjalan kaki di desa ini memberikan kenyamanan maksimal dan bebas dari polusi suara maupun udara.

2. Pengelolaan Sampah yang Mandiri dan Ketat
Setiap rumah di Desa Penglipuran diwajibkan memiliki dua jenis tempat sampah: organik dan anorganik. Warga desa diajarkan sejak usia dini untuk tidak pernah membuang sampah sembarangan. Anda tidak akan menemukan satu pun bungkus permen atau puntung rokok yang berserakan di jalan. Daun-daun kering yang berguguran pun segera disapu dan dikumpulkan setiap harinya untuk dijadikan kompos.

3. Penghijauan yang Berkelanjutan
Desa ini dikelilingi oleh hutan bambu seluas 45 hektar (sekitar 40% dari total luas desa). Hutan bambu ini tidak hanya berfungsi sebagai daerah resapan air, tetapi juga dipelihara kelestariannya. Penduduk tidak boleh sembarangan menebang bambu. Jika mereka membutuhkan bambu untuk membangun rumah atau membuat kerajinan, mereka harus meminta izin kepada prajuru (pemimpin) desa adat setempat. Keberadaan hutan bambu ini membuat suhu udara di Penglipuran selalu sejuk, berkisar antara 20 hingga 24 derajat Celcius.

Konsep Tata Ruang Tradisional “Tri Mandala”

Apa yang membuat pemandangan di Desa Penglipuran begitu memanjakan mata adalah keseragaman arsitekturnya. Setiap rumah memiliki “Angkul-Angkul” (pintu gerbang utama) yang bentuk dan ukurannya persis sama. Atapnya terbuat dari sirap bambu, sedangkan temboknya terbuat dari tanah liat (polpolan) tanpa semen. Jika Anda juga menikmati wisata spiritual ke pura suci seperti halnya saat Anda berkunjung ke Tirta Empul, Anda akan mendapati bahwa Desa Penglipuran memiliki nuansa kesakralan yang serupa pada penataan ruangnya.

Desa Penglipuran mengadopsi konsep tata ruang “Tri Mandala”, yang merupakan implementasi dari filosofi Hindu Bali dalam membagi ruang berdasarkan tingkat kesuciannya:

1. Utama Mandala (Bagian Paling Suci)
Berada di ujung paling utara desa (karena terletak paling tinggi, menghadap ke arah Gunung Batur). Area ini disebut Pura Bale Agung atau Pura Puseh, yang merupakan tempat peribadatan utama bagi seluruh warga desa untuk memuja para dewa dan roh leluhur. Wisatawan biasanya hanya diperbolehkan masuk ke area luar pura atau pelatarannya saja, kecuali sedang ada upacara keagamaan dan wisatawan menggunakan pakaian adat lengkap untuk bersembahyang.

2. Madya Mandala (Area Permukiman)
Terletak di bagian tengah desa, yang posisinya lebih rendah dari Utama Mandala. Di sinilah letak rumah-rumah penduduk. Desa ini terdiri dari puluhan pekarangan keluarga (karang) yang saling berhadapan, dipisahkan oleh jalan utama desa yang bersih.

3. Nista Mandala (Area Makam/Kuburan)
Berada di ujung paling selatan dan posisinya paling rendah. Nista Mandala diperuntukkan sebagai area pekuburan (setra). Uniknya, berbeda dengan desa-desa lain di Bali di mana jenazah biasanya dikremasi melalui upacara Ngaben, penduduk asli Penglipuran tidak melakukan Ngaben. Jenazah warga yang meninggal dunia akan dimakamkan atau dikubur di tanah.

Menginjakkan Kaki dan Berinteraksi dengan Warga

Salah satu pengalaman terbaik saat mengunjungi Penglipuran adalah keramahan warganya. Wisatawan sangat dipersilakan untuk masuk ke area pekarangan rumah warga (Madya Mandala) melalui gerbang angkul-angkul. Di dalam, Anda bisa melihat pembagian ruang rumah tradisional yang terdiri dari Bale Daja (kamar tidur), Bale Dangin (tempat upacara), Paon (dapur tradisional dengan tungku kayu bakar), dan Sanggah (tempat ibadah keluarga).

Anda juga bisa melihat ibu-ibu sedang menenun kain atau menganyam kerajinan dari bambu. Jangan ragu untuk membeli hasil karya mereka. Banyak juga warga yang menjual minuman khas bernama Loloh Cemcem. Minuman herbal berwarna hijau ini terbuat dari perasan daun cemcem, dicampur dengan kayu manis, daun sirih, air kelapa, dan gula aren. Rasanya sangat unik: asam, manis, sedikit asin, dan memberikan sensasi menyegarkan di kerongkongan.

Aturan Adat “Karang Memadu” dan Perlindungan Terhadap Wanita

Salah satu aturan adat (awig-awig) paling unik yang dipegang teguh oleh masyarakat Penglipuran adalah larangan keras bagi para pria untuk berpoligami. Desa adat Penglipuran sangat menghargai hak dan kedudukan wanita. Jika ada seorang pria yang nekat memiliki istri lebih dari satu, ia akan diberikan sanksi moral dan sosial yang sangat berat.

Pria yang berpoligami beserta istri-istrinya akan diasingkan dan dikucilkan di sebuah area khusus bernama “Karang Memadu”. Lokasi Karang Memadu ini berada di wilayah selatan desa, dan orang-orang yang ditempatkan di sana tidak diperbolehkan melewati jalan utama desa atau berpartisipasi dalam kegiatan upacara adat maupun sosial. Aturan ini sangat efektif, sehingga sampai saat ini konon lahan Karang Memadu tersebut tidak pernah dihuni oleh siapa pun karena warga sangat mematuhi larangan poligami tersebut.

Tips Mengunjungi Desa Penglipuran

Jika Anda berencana memasukkan Penglipuran ke dalam itinerary, perhatikan tips berikut ini:
* Waktu Kunjungan Terbaik: Datanglah pada pagi hari (sekitar pukul 08.00 – 10.00 WITA) sebelum desa ini dipenuhi oleh bus-bus rombongan wisatawan lainnya. Udara pagi hari juga jauh lebih segar, dan Anda bisa mendapatkan foto yang sangat jernih di jalan utama desa yang lengang.
* Pakai Alas Kaki yang Nyaman: Karena Anda harus banyak berjalan kaki menanjak atau menurun dan masuk ke hutan bambu, gunakanlah sepatu kets (sneakers) atau sandal jepit yang nyaman. Hindari memakai high heels.
* Sewa Pakaian Adat Bali: Di beberapa rumah warga, menyewakan pakaian adat tradisional Bali (kebaya untuk wanita dan safari untuk pria). Berfoto dengan pakaian adat di tengah desa Penglipuran akan membuat hasil foto Anda terlihat jauh lebih magis dan menyatu dengan budaya lokal.
* Kombinasikan dengan Museum Antonio Blanco: Jika perjalanan Anda difokuskan pada nilai estetika, Anda bisa mampir ke Museum Antonio Blanco di Ubud setelah atau sebelum mengunjungi Penglipuran. Museum tersebut menampilkan seni lukis tingkat tinggi yang terinspirasi oleh eksotisme budaya Bali, sangat cocok melengkapi liburan budaya Anda.

Jangan Lupa Bawa Oleh-Oleh Asli Bali

Setelah Anda berkeliling Desa Penglipuran, berfoto di hutan bambu, dan berbincang dengan warga, perjalanan Anda mungkin akan berlanjut ke destinasi lain, atau mungkin Anda bersiap untuk kembali ke daerah asal Anda. Jangan biarkan orang-orang tersayang di rumah hanya mendengarkan cerita Anda tanpa mencicipi oleh-oleh istimewa.

Berikan mereka Pie Susu Asli Enaaak. Perpaduan kulit pie yang gurih dan lembutnya lapisan susu di tengahnya melambangkan perpaduan sempurna budaya lokal Bali yang hangat dan ramah seperti warga Penglipuran. Produk otentik ini sudah teruji oleh waktu, sama seperti Desa Penglipuran yang mempertahankan tradisinya dengan teguh.

Kesimpulan

Desa Penglipuran adalah oase ketenangan di tengah laju modernisasi. Desa ini mengajarkan kita bahwa menjaga warisan budaya leluhur, memelihara kelestarian alam lingkungan, dan hidup rukun berdampingan bukanlah konsep yang usang. Ketika Anda meninggalkan desa ini, Anda tidak hanya membawa pulang foto-foto yang estetik, tetapi juga secercah pemahaman baru mengenai harmoni kehidupan ala masyarakat Bali. Desa ini bukan sekadar destinasi liburan, melainkan sebuah ruang refleksi diri yang wajib Anda kunjungi setidaknya sekali seumur hidup.

FAQ Desa Penglipuran

1. Berapa harga tiket masuk ke Desa Penglipuran?
Harga tiket masuk (retribusi) berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 30.000 untuk dewasa (wisatawan domestik) dan Rp 15.000 hingga Rp 20.000 untuk anak-anak. Wisatawan mancanegara biasanya dikenakan tarif yang sedikit lebih tinggi.

2. Apakah diperbolehkan mengambil video menggunakan drone di area desa?
Menerbangkan drone di atas area Desa Penglipuran diperbolehkan namun Anda wajib meminta izin secara formal kepada pengelola (prajuru) desa adat setempat di loket tiket dan mematuhi panduan mereka, terutama untuk tidak menerbangkannya di area Utama Mandala (pura suci) saat ada upacara berlangsung.

3. Bisakah saya menginap di Desa Penglipuran?
Ya, beberapa warga desa menyewakan kamar-kamar di pekarangan rumah mereka sebagai homestay untuk para wisatawan yang ingin merasakan pengalaman autentik hidup dan beraktivitas bersama penduduk lokal sehari-hari.

4. Apakah loloh cemcem mengandung alkohol?
Tidak, loloh cemcem sama sekali tidak mengandung alkohol. Minuman ini 100% halal dan terbuat dari bahan-bahan rempah alami, daun-daunan, kelapa, dan gula aren. Sangat menyegarkan dan baik untuk pencernaan.

5. Di mana bisa membeli Pie Susu Asli Enaaak saat berada di sekitar Bangli?
Meski lebih banyak berpusat di area Denpasar, beberapa pusat oleh-oleh di rute pariwisata dari arah Bangli menuju selatan biasanya menyediakannya, namun cara paling pasti adalah memesan langsung dari Pie Susu Asli Enaaak atau membelinya di toko cabang resmi terdekat saat perjalanan pulang menuju penginapan atau bandara.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *