Pernah gak sih lo kepikiran, gimana ceritanya sebuah kue sederhana bisa jadi ikon oleh-oleh satu pulau?
Kayak pie susu Bali, misalnya.
Sekarang sih gampang banget nemuin—di setiap bandara, toko oleh-oleh, bahkan di koper temen yang baru balik dari liburan. Tapi dulu… ceritanya gak semanis itu.
Awalnya, pie susu tuh bukan makanan asli Bali.
Jauh sebelum muncul label “oleh-oleh khas Bali,” pie susu sebenernya terinspirasi dari pastry ala Eropa—lebih tepatnya dari egg tart Portugis dan custard pie Inggris. Tapi orang Bali punya satu kebiasaan yang unik: kalau nemu sesuatu yang enak, gak cuma ditiru, tapi juga diadaptasi biar nyatu sama rasa lokal.
Dari situlah semuanya mulai.
Kisahnya kira-kira dimulai di dapur rumah kecil, sekitar tahun 1980-an.
Ada seorang ibu yang suka bereksperimen dengan resep kue.
Bukan chef terkenal, bukan juga pemilik toko roti besar—cuma ibu rumah tangga yang iseng pengen bikin camilan manis buat anaknya sepulang sekolah.
Katanya, waktu itu susah banget nemuin camilan yang “simple tapi bikin bahagia.”
Jadi dia coba-coba bikin kue tart kecil dari tepung, susu kental manis, dan telur.
Pertama kali dicoba, kuenya gosong. Kedua kali, adonannya gagal ngembang. Tapi di percobaan keempat—katanya—teksturnya pas, bagian bawahnya renyah, bagian atasnya lembut dan manisnya gak berlebihan.
Dari situ, si ibu dapet ide:
“Gimana kalau kue ini aku jual buat tetangga?”
Awalnya dijual keliling komplek, dititip di warung, sampai akhirnya mulai banyak yang suka.
Karena rasa manis dan lembutnya itu beda. Gak berat kayak cake, tapi gak juga garing kayak biskuit.
Dan yang paling khas: aroma susunya itu loh, wangi banget, kayak manggil dari jauh.
Pelan-pelan, kue buatan rumah itu mulai dikenal dengan sebutan pie susu.
Namanya sederhana, tapi justru itu yang bikin orang gampang ingat.
“Pie”—karena bentuknya mirip tart, dan “susu” karena bahan utamanya ya… itu tadi, susu kental manis yang bikin teksturnya creamy dan lembut.

Tapi ada hal menarik di balik nama itu juga.
Buat sebagian orang Bali, pie susu punya makna simbolis.
Susu dianggap lambang kehangatan dan kasih, sesuatu yang menutrisi dan menghidupkan.
Makanya, banyak yang percaya pie susu itu bukan sekadar makanan manis, tapi juga simbol “rasa sayang yang dibagi.”
Mungkin itu sebabnya, dari dulu sampai sekarang, pie susu selalu dibawa pulang buat orang tersayang.
Dari turis ke teman, dari anak ke orang tua, dari suami buat istri.
Sederhana, tapi penuh makna.
Pie Susu Asli ENAAAK lahir dari semangat yang sama.
Bukan cuma pengen bikin kue yang laku, tapi pengen terusin tradisi rasa itu—rasa yang bikin orang inget rumah, inget Bali, inget kehangatan yang gak bisa dijual dengan harga berapa pun.
Dari dapur kecil di Denpasar, resepnya dikembangkan lagi: bahan-bahan dipilih lebih hati-hati, prosesnya disesuaikan biar konsisten, tapi cita rasanya tetap sama—manisnya lembut, teksturnya renyah di luar dan lembut di dalam.
Pokoknya, begitu gigit pertama, ada sensasi nostalgia yang langsung muncul:
kayak sore hari di teras rumah, sambil minum teh dan denger suara angin.
Yang menarik, seiring waktu, pie susu gak cuma jadi camilan keluarga.
Ia naik kelas jadi ikon budaya kuliner Bali.
Para wisatawan dari luar negeri bahkan mulai mengenalnya sebagai “Balinese Milk Pie.”
Banyak yang heran, gimana makanan sederhana kayak gini bisa menembus pasar global.
Tapi kalau lo tanya orang lokal, jawabannya sederhana:
“Karena pie susu itu punya jiwa.”
Dan mungkin mereka bener.
Setiap gigitan pie susu tuh kayak potongan kecil cerita—tentang perjuangan ibu rumah tangga yang gak nyerah, tentang resep yang diwariskan dari generasi ke generasi, tentang Bali yang hangat dan selalu terbuka untuk siapa pun yang datang.
Sekarang, Toko dan Pabrik Pie Susu Asli Enaaak udah dikenal bukan cuma di Bali, tapi juga di kota-kota besar di Indonesia.
Banyak yang nitip, banyak yang rela antri cuma buat dapet rasa original-nya yang legendaris.
Tapi kalau lo tanya apa rahasia suksesnya, jawabannya gak ribet.
Kata pemiliknya:
“Yang penting jujur sama bahan, tulus sama rasa.”
Sederhana, tapi dalam banget.
Dan mungkin, itu juga filosofi yang bisa kita pelajari dari perjalanan pie susu Bali.
Bahwa hal besar sering lahir dari hal kecil yang dikerjakan dengan cinta.
Kayak kue kecil yang lahir dari dapur sederhana, tapi akhirnya bisa bikin jutaan orang tersenyum.
Kadang kita terlalu fokus cari sesuatu yang megah buat dibilang “berhasil,”
Padahal, yang benar-benar bertahan itu yang punya makna, bukan sekadar sensasi.
Jadi, lain kali lo makan Pie Susu Asli ENAAAK, coba pelan-pelan.
Rasain tiap lapisan rasa dan aroma susunya.
Karena di balik manisnya, ada sejarah panjang, ada tangan-tangan yang tulus bikin, dan ada kisah sederhana tentang bagaimana sesuatu yang dimulai dari rumah, bisa berakhir di seluruh dunia.
Pie Susu Bali: Dari dapur kecil, untuk dunia yang lebih manis.

